Sunday, March 6, 2011

Bohong dikit, boleh tidak?

Bayangkan sendiri bagaimana perasaan sampeyan kalau orang lain berani berbohong di depan mata sampeyan Tidak usah berargumen yang macam-macam, sampeyan bisa merasakannya. Begitu pula yang dirasakan orang lain ketika pernyataan dan keterangan yang sampeyan adalah bohong semata. Nada bicara orang yang sedang berbohong seperti memiliki warna tersendiri.

Bagaimana kalau kita hanya tida menyampaikan semua kebenaran yang ada? Sama saja. Menutup-nutupi suatu kebenaran dengan hanya menyampaikan apa yang sampeyan mau juga termasuk berbohong.

Yes, telling part of the truth is a lie. Leaving out details or part of the story will not win points with any coworker. They won’t trust that you are telling them the whole story and will anticipate being blindsided in the future by the details you omit. And, yes, they will see right through your later attempts to equivocate or explain your words or the missing portions of the story. (Baca: "Apologize for Lying by Omission"

Kebiasaan kita memang tawar-menawar. Bahkan masalah kebohongan pun masih ditawar! "Bohong dikit, boleh tidak?" Kalau ini sampeyan mengawalinya, bohong itu akan menjadi kebiasaan yang tidak akan pernah bisa dihentikan.

No comments:

Post a Comment