Sunday, March 6, 2011

Bohong dikit, boleh tidak?

Bayangkan sendiri bagaimana perasaan sampeyan kalau orang lain berani berbohong di depan mata sampeyan Tidak usah berargumen yang macam-macam, sampeyan bisa merasakannya. Begitu pula yang dirasakan orang lain ketika pernyataan dan keterangan yang sampeyan adalah bohong semata. Nada bicara orang yang sedang berbohong seperti memiliki warna tersendiri.

Bagaimana kalau kita hanya tida menyampaikan semua kebenaran yang ada? Sama saja. Menutup-nutupi suatu kebenaran dengan hanya menyampaikan apa yang sampeyan mau juga termasuk berbohong.

Yes, telling part of the truth is a lie. Leaving out details or part of the story will not win points with any coworker. They won’t trust that you are telling them the whole story and will anticipate being blindsided in the future by the details you omit. And, yes, they will see right through your later attempts to equivocate or explain your words or the missing portions of the story. (Baca: "Apologize for Lying by Omission"

Kebiasaan kita memang tawar-menawar. Bahkan masalah kebohongan pun masih ditawar! "Bohong dikit, boleh tidak?" Kalau ini sampeyan mengawalinya, bohong itu akan menjadi kebiasaan yang tidak akan pernah bisa dihentikan.

Kepercayaan

Kepercayaan disebut 'trust' dalam bahasa Inggris. Ini persoalan penting yang tidak dipahami oleh Petruk, yang maklum belum pernah mempelajarinya selama menjadi punakawan.
Trust is both and emotional and logical act. Emotionally, it is where you expose your vulnerabilities to people, but believing they will not take advantage of your openness. Logically, it is where you have assessed the probabilities of gain and loss, calculating expected utility based on hard performance data, and concluded that the person in question will behave in a predictable manner. In practice, trust is a bit of both. I trust you because I have experienced your trustworthiness and because I have faith in human nature.

We feel trust. Emotions associated with trust include companionship, friendship, love, agreement, relaxation, comfort. (Baca: "What is trust")
Dengan adanya kepercayaan, sebagai ratu Petruk bisa memberikan keleluasaan kepada orang lain yang menjadi bawahannya. Dia tidak perlu menggunakan parang, senjata andalannya, untuk membuat orang lain bekerja dengan baik untuknya. Semestinya dia bisa memberikan sedikit solidaritasnya, sebab dulunya dia juga bukan keturunan bangsawan yang berhak menduduki tahtanya sekarang. Bukankah hanya kemujuran saja yang dia miliki sampai sekarang ini? Mengapa dia tidak bisa bersikap lugu dan waskita seperti dulu?

Kepercayaan kepada orang lain menunjukkan 'kecerdasan' dan kebijakan seorang ratu. Dengan kepercayaan pula orang akan lebih simpati dan memberikan dukungan penuh selama Petruk mau. Dengan kepercayaan yang dibangun bersama, maka empat persoalan yang dicapai:
  1. Bisa diperkirakan. Maksdunya, dengan adanya sikap percaya, kita bisa memperkirakan apa yang sebenarnya akan terjadi. Dalam hal ini, lebih baik musuh yang bisa diperkirakan daripada teman yang tidak terduga pribadinya.
  2. Pertukaran nilai. Dengan saling percaya, artinya kita bisa saling mengetahui nilai-nilai yang diakui bersama. Ada kemungkinan untuk salaing memahami dalam hal ini.
  3. Tertundanya bencana. Dampak yang muncul kalau tidak adanya saling kepercayaan adalah bahayanya suatu konflik terbuka. Dengan saling percaya, persoalan seperti itu bisa ditenggang waktunya.
  4. Keterbukaan. Rasa percaya membuat orang salaing terbuka dan bersikap apa adanya.